Kisah Pendiri · Desa Nusantara

Bintoro Siallagan

Putra Huta Siallagan — anak ladang yang mengangkat derajat desa
Pendiri karyaOS (Karya Solusi Teknologi) & penggagas Desa Nusantara · Lahir 1987, Huta Siallagan, Samosir, Danau Toba

Di sebuah perkampungan adat Batak di tepi Danau Toba, tempat tembok batu tua berdiri dan Tugu Siallagan menjulang, lahir seorang anak pada tahun 1987. Namanya membawa warisan: Siallagan — dari kata allang, “yang menghalangi”, “pelindung” — sosok yang berdiri di depan, membentengi dari ancaman. Ia belum tahu saat itu, bahwa namanya kelak menjadi takdirnya.

Anak ketiga dari enam bersaudara, putra dari Mikoyan Siallagan dan Ramah Sihaloho — sepasang petani sederhana. Setiap pagi ia berjalan kaki ke sekolah, dan setiap hari tangannya mengayun cangkul di ladang. Dari tanah Samosir itulah ia belajar arti keringat — dan betapa berharganya setiap butir hasil bumi.

April 2005. Berusia delapan belas tahun, ia merantau ke Jakarta — kota yang tak menjanjikan apa-apa selain perjuangan. Ada hari ia makan, ada hari ia tidak. Ia bertahan dengan menjual telur butir demi butir, mengurus biro jasa, melakukan apa pun yang halal demi tetap berdiri.

Ia mulai dari STM Teknik Mesin, lalu bekerja di pabrik otomotif. Tapi hatinya memanggil lebih jauh — ia mendalami ilmu komputer: menempuh D3, S1 Teknik Komputer, hingga S2 pada 2018 — semuanya sambil bekerja. Siang ia mengabdi, malam ia belajar. Tangan yang dulu memegang cangkul, kini menulis kode.

Kegigihannya berbuah. Di dunia ritel ia menapaki tangga satu per satu: IT staff → supervisor → asisten manajer → manajer → Head of IT. Namun di puncak itu ada keresahan: terlalu banyak “drama sistem” — teknologi rumit yang menyalahkan penggunanya, yang membuat orang kecil semakin kecil.

Maka pada 2017, ia membangun yang ia yakini: Karya Solusi Teknologi — karyaOS. Lahir dari satu keyakinan sederhana namun dalam:

“Sistem itu seharusnya membantu, bukan menghakimi.”

Dan akhirnya, hatinya pulang — ke desa. Karena di sanalah ia berasal. “Aku harus mengangkat derajat desaku, dan desa-desa yang ada di seluruh Nusantara.” Lewat Desa Nusantara, ia membangun benteng digital bagi petani seperti ayahnya dan pengrajin seperti tetangganya: bagi hasil langsung ke desa dan pengrajin — tanpa perantara. Ia tak melindungi desa dari teori. Ia melindungi mereka karena ia pernah menjadi mereka.

Anak ladang yang pernah menahan lapar, kini berdiri di depan, membentengi dan mengangkat derajat desa-desa Indonesia. Persis seperti makna namanya.

“Untuk anak muda Indonesia: bercita-citalah. Karena proses hidup itu sendiri adalah tujuan, dan harapan.” — Bintoro Siallagan
Itulah Siallagan. Itulah Putra Huta Siallagan. 🇮🇩
← Jelajahi Desa Nusantara